Home › Cara Impor Barang › HS Code Adalah, Arti, Struktur & Cara Membacanya

HS Code Adalah, Arti, Struktur & Cara Membacanya

HS Code (Harmonized System Code) adalah kode klasifikasi barang yang dipakai di seluruh dunia untuk kepabeanan. Kode ini menentukan tarif bea masuk, pajak, dan izin (LARTAS) suatu barang saat diimpor. Memahaminya adalah langkah pertama impor yang benar.

Butuh barangnya sampai ke alamat, bukan cuma sampai pelabuhan? Lihat jasa import door to door kami: dijemput di supplier (add-on asal), bea cukai diurus, diantar ke alamat (min 50 kg, harga sama dengan app).

Cek Tarif & Booking di App →

1. Arti & fungsi HS Code

HS Code adalah sistem penomoran barang yang diselaraskan secara internasional (Harmonized System). Setiap barang punya kode yang menentukan: besar Bea Masuk, pengenaan PPN/PPh, dan apakah barang termasuk LARTAS (butuh izin). Di Indonesia, HS dijabarkan dalam BTKI.

2. Struktur digit HS Code

Enam digit pertama sama secara internasional: 2 digit Bab, 4 digit Pos, 6 digit Sub-pos. Indonesia menambah penjabaran menjadi 8 digit (pos tarif nasional/BTKI) untuk menentukan tarif & ketentuan lebih rinci.

3. Cara mengecek HS Code & tarifnya

Cari HS berdasarkan uraian barang di portal INSW (insw.go.id)/BTKI, lalu lihat tarif bea masuk & status LARTAS-nya. Langkah lengkap: Cara Cek LARTAS & HS Code dan Cara Hitung Bea Masuk & Pajak.

4. Kenapa akurasi HS Code penting

Satu barang bisa mirip beberapa pos tarif. Salah klasifikasi = salah bea masuk & salah izin, berisiko barang tertahan atau kena sanksi. Tim kepabeanan kami membantu menentukan HS yang tepat sebelum barang dikirim.

Harga real-time: tarif & estimasi bea/pajak mengikuti data resmi di aplikasi IndoExpress.

Terkait: Cek LARTAS & HS Code · Hitung Bea Masuk & Pajak · LARTAS & Izin · Cara Impor Barang.

Cara Membaca Pos Tarif

Pos tarif dibaca dari kiri ke kanan, makin ke kanan makin rinci: dua digit pertama menunjukkan bab (kelompok besar barang), empat digit menunjukkan pos, enam digit adalah subpos yang berlaku internasional, dan delapan digit adalah rincian nasional Indonesia di BTKI. Ketika seseorang menyebut "HS code 6 digit", itu bagian yang sama di semua negara; yang menentukan kewajiban impor di Indonesia tetap versi 8 digitnya.

Menentukan pos tarif bukan soal mencocokkan nama barang, melainkan menerapkan Ketentuan Umum Menginterpretasi Harmonized System: barang diklasifikasikan menurut uraian pos dan catatan bagian/bab, barang tidak lengkap yang sudah punya karakter esensial diperlakukan seperti barang jadinya, dan bila dua pos sama-sama mungkin, dipilih uraian yang paling spesifik. Inilah sebabnya dua produk yang di pasar terlihat sejenis bisa masuk pos berbeda.

Apa yang Ditentukan oleh Pos Tarif

Bea masuk

Besaran bea masuk melekat pada pos tarif, bukan pada nama dagang barang.

Pajak impor

PPN dan PPh impor dihitung dari nilai impor, yang ikut dipengaruhi bea masuk.

Izin (LARTAS)

Kebutuhan izin BPOM, SNI, SDPPI, atau karantina melekat pada pos tarif tertentu.

Tarif preferensi

Fasilitas Form D/E dan perjanjian dagang lain berlaku per pos tarif, dengan syarat asal barang.

Langkah praktisnya ada di panduan kami: cek HS code dan bea masuk (termasuk cara membaca hasil di portal INSW) dan cara cek LARTAS. Untuk menghitung perkiraan biayanya, gunakan kalkulator bea masuk & pajak impor.

Pertanyaan yang Sering Ditanya

Apa itu HS Code?
HS Code (Harmonized System) adalah kode klasifikasi barang internasional yang dipakai kepabeanan untuk menentukan tarif bea masuk, pajak, dan persyaratan izin (LARTAS) suatu barang.
Berapa digit HS Code Indonesia?
Indonesia memakai penjabaran hingga 8 digit (BTKI) berbasis 6 digit HS internasional. Digit awal menunjukkan bab & pos tarif.
Kenapa HS Code penting saat impor?
Salah HS Code berarti salah tarif bea masuk dan bisa salah kewajiban izin, berisiko barang tertahan atau kena denda. Karena itu penentuan HS harus akurat sejak awal.
Cek Tarif & Booking di App →

Minimum 50 kg itu untuk jalur door to door reguler. Kiriman yang lebih kecil tetap bisa diimpor resmi lewat Drop Point konsolidasi DDP: mulai 10 kg (udara) atau 0,5 CBM (laut; Foshan/Guangzhou 0,5 CBM), harga sudah termasuk bea masuk, pajak, dan antar sampai alamat di Jakarta; kota lain: penerusan sampai gudang/pelabuhan kota tujuan, antar ke alamat dikonfirmasi ops. Perbandingan dua jalur itu ada di impor di bawah 100 kg.